Membanding-bandingkan Pasangan dengan Orang Lain


Sejak kecil, Lidya (32) terbiasa menyaksikan keromantisan ayahnya terhadap ibunya. Ayah saya itu hobi sekali memeluk dan mencium ibu. Ia selalu bertutur kata manis dan selalu berusaha mendahulukan kepentingan ibu. Berbeda sekali dengan suami saya, Ardi (32), yang cenderung irit bicara. Apalagi, jika dia sudah di depan komputer, dia seperti lupa kalau dia itu punya istri, curhat Lidya.

Sering Lidya memprotes Ardi untuk menuntut perhatian lebih darinya. Pernah Lidya berupaya membuat Ardi mengerti apa yang diinginkannya dengan meminta suaminya itu untuk belajar menjadi pria romantis seperti ayahnya. Pancingannya ini tidak berhasil menggugah simpati Ardi atau mengubahnya jadi pria yang lebih romantis.

Ardi malah balik menyerang, sambil mengatakan bahwa sebaiknya saya belajar dulu untuk juga bisa berperilaku seperti ibu saya, yang selalu lembut dan siap meladeni ayah saya, ungkap Lidya yang mengaku bahwa pekerjaan sebagai manajer marketing sering mengharuskannya meninggalkan suami untuk bertugas ke luar kota.

Kalau sudah perang ego begini, yang didapat bukanlah solusi, tapi justru perang dingin yang membuat hubungan mereka makin jauh.

Membanding-bandingkan pasangan hanyalah gejala dari hubungan yang sebelumnya telah bermasalah. 



Akar permasalahan ini yang harus dicari. Sebab, perilaku membandingkan pasangannya dengan orang lain sangat jarang terjadi dalam hubungan yang baik dan memuaskan.

Penyebabnya bisa bermacam-macam, tapi biasanya berawal dari kurangnya komunikasi yang intim dengan pasangan. Sehingga, masing-masing pihak mulai melihat ke luar untuk mencari tali pengukur sebagai standar seperti apa seharusnya sebuah hubungan terbina, seperti apa seharusnya seorang suami itu. Padahal, apa yang Anda lihat hanya gambaran permukaan. Sebab, Anda baru benar-benar tahu jenis suami macam apa seorang pria apabila Anda menjadi istrinya.


Tidak ada standar baku dalam menilai kualitas sebuah hubungan rumah tangga. Setiap hubungan unik karena dibangun oleh pribadi dengan karakter yang berbeda. Mereka tidak berpikir atau membuat keputusan dengan cara yang sama. Kalau begitu, kenapa juga kita harus memaksakan diri untuk membangun sebuah hubungan hanya untuk memenuhi kriteria apa kata orang

Count your blessing. Ambil sebuah kertas, lalu tuliskan berbagai hal indah dan positif yang selama ini Anda nikmati bersama pasangan. Dari sini Anda bisa menemukan keunikan-keunikan yang memberikan warna tersendiri dalam sebuah hubungan. Misalnya, ketika rajin memeluk dan mencium menjadi standar romantis bagi orang lain. Maka, buat Anda hal itu berubah menjadi kesediaan suami yang tanpa mengeluh mengasuh dan merawat anak-anak ketika Anda bertugas keluar kota.

Contoh lainnya, ketika dalam rumah tangga lain keberhasilan diukur dengan pencapaian financial, dalam rumah tangga Anda pencapaian ini diukur oleh banyaknya waktu berkualitas yang terbangun antara Anda dan suami. Tentunya, yang terakhir ini sangat esensial. Sebab, intimasi yang terbina melalui waktu yang berkualitas ini akan memampukan Anda untuk mengomunikasikan harapan-harapan Anda dalam sebuah hubungan dengan lebih terbuka. Karena, harapan tidak bersifat menuntut, tapi membuka ruang bagi Anda dan suami untuk mengusahakannya bersama-sama.

Ketika Anda mulai diserang rasa tidak puas, baca kembali ‘daftar kebaikan’ yang Anda buat. Percayalah, daftar yang ternyata cukup panjang dan akan terus bertambah itu tidak hanya akan membuat Anda tersenyum kembali. Tetapi, juga membuat Anda menemukan kepuasan yang selama ini hilang karena Anda dan pasangan terlalu sering melihat ke luar.

0 Response to "Membanding-bandingkan Pasangan dengan Orang Lain"

Post a Comment